24 Juli 2008

AMALIYAH BULANAN RAJAB 1429 H

Manqobah Syekh Abdul Qodir Jailani yang dibaca untuk bulan Rajab adalah manqobah ke-11, Telapak Kaki Nabi Muhammad Saw. Memijak Pundak Syekh 'Abdul Qodir pada Malam Mi'raj.

Syekh Rosyid al-Junaidi meriwayatkan, pada malam Mi'raj malaikat-malaikat datang menghadap Rasulullah Saw. membawa Buroq. Kakinya bercahaya laksana bulan dan paku telapak kakinya bersinar seperti sinar bintang. Di kala Buroq itu dihadapkan kepada Rasulullas Saw, ia tidak bisa diam dan kakinya bergoyang-goyang. Rasul bertanya, "Mengapa kamu tidak bisa diam? Apakah kamu tidak mau aku kendarai?"

Buroq menjawab, "Demi nyawa hamba yang menjadi penebusnya, hamba tidak menolak, namun ada satu permohonan, yaitu ketika Engkau akan masuk surga, tidak menunggangi yang lain."

Maka Rasul pun menjawab, "Baik, permohonanmu kukabulkan."

Kemudian Buroq itu masih mengajukan permintaan, "Hendaknya tanganmu yang mulia memegang pundak hamba sebagai tanda bukti nanti pada hari kiamat."

Lalu dipeganglah pundak Buroq itu oleh Rasulullah Saw. Karena gejolak rasa gembiranya, jasad Buroq itu tidak cukup untuk menampung ruhnya, badannya menjadi 40 hasta tingginya. Rasul terpaku untuk sementara waktu melihat keadaan tersebut karena memerlukan sebuah tangga untuk menaikinya.

Saat itu juga, datanglah Ghoutsul A'zhom Syekh 'Abdul Qodir Jailani bertekuk lutut di hadapan Rasul dan berkata, "Silahkan pundak hamba jadikan tangga!"

Maka Rasul pun memijakkan kakinya pada pundak Syekh, lalu beliau menaiki Buroq tersebut. Kemudian Rasul berkata, "Sebagaimana telapak kakiku menginjak pundakmu, maka telapak kakimu akan menginjak pundak para waliyullah."

TASAWUF

Tasawuf berpangkal pada pribadi Nabi Muhammad SAW. gaya hidup sederhana, tetapi penuh kesungguhan. Akhlak Rasul tidak dapat dipisahkan serta diceraikan dari kemurnian cahaya Alquran. Akhlak Rasul itulah titik tolak dan garis perhentian cita-cita tasawuf dalam Islam itu.

Dhunnun al-Misri, seorang sufi yang terkemuka, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tasawuf ialah pembebasan dari ragu dan putus asa, kemudian tegak berdiri beserta yakin iman. Pengertian yang simpang siur tentang urat bahasa sufi dan tasawuf menimbulkan pengiraan bahwa tasawuf Islam mencakup pula bahan-bahan sufi Yunani dan mistik, serta Hindu Farsi. Pandangan tersebut merupakan pengiraan yang keliru dan mengelirukan. Terlepas dari adanya pengakuan jujur tentang adanya persamaan yang tampak lahirnya, ataupun mengenal istilah-istilah dan cara-cara melatih jiwa. Di dalam tasawuf Islam ditemukan ciri-ciri yang istimewa; yaitu pengembalian dengan cara mutlak segala persoalan agama dan kehidupan kepada Al Quran dan Sunnah.

Al-Junaid, penghulu sufi Islam, di dalam redaksi yang bermacam-macam menegaskan bahwa yang mungkin menjadi ahli tasawuf itu hanyalah barang siapa yang mengetahui keseluruhan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Karena itu yang sebenarnya tasawuf adalah kefanaan diri ke dalam kemurnian Al Quran dan Sunnah.

Tarekat Secara terminologi (istilah) tarekat yang berasal dari kata thariqah itu mula-mula berarti jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kemudian ia digunakan untuk menunjuk suatu metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan. Tarekat dalam pengertian inilah yang digunakan dalam karya al-Junayd, al-Hallaj, al-Sarraj, al-Hujwiri, dan al-Qushayri. Melalui jalan itu seseorang dengan menempuh berbagai tingkatan psikologis dalam keimanan dan pengamalan ajaran Islam dapat mencapai pengetahuan tentang Tuhan dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih tinggi, sehingga akhirnya ia mencapai realitas (hakikat) Tuhan yang tertinggi.

Tarekat adalah suatu metode praktis dalam membimbing murid dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan tindakan melalui tingkatan-tingkatan secara berurutan untuk merasakan hakikat Tuhan. Tarekat adalah jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Berdasarkan uraian itu maka dapat disimpulkan bahwa tarekat adalah jalan yang ditempuh murid agar berada sedekat mungkin dengan Tuhan di bawah bimbingan guru (mursyid).

Perkembangan Tarekat Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya tarekat. Di Jawa Timur misalnya, kita jumpai Thariqah Qadiriyah yang cukup dikenal, disamping Thariqah Naqsabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, dan Sanusiyah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini, kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahlal-Thariqah al-Mu'tabarah.[suryalaya.org]