04 Agustus 2008

SHALAT RAJAB

Masih tentang Rajab. Kali ini, Ustadz M. Sirajudin Ruyani, Pimpinan Mushalla Sohibul Manfaat dan Wakil Talqin wilayah Tangerang, meminta para ikhwah untuk menjalankan Shalat Rajab.

Dalam pesan singkatnya, ba'da maghrib kami diminta mendirikan 10 rakaat shalat sunnah dengan lima salam. Setiap rakaat, kami diminta membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali dan surat Al-Kafirun sebanyak tiga kali.

Alhamdulillah, Rajab telah berganti Sya'ban. Dan, Ramadhan sudah di depan mata. Seperti doa yang senantiasa kami lantunkan ba'da berZikir Rajab, "Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan untuk Rajab kita, juga Sya'ban dan Ramadhan kita".

Ila Anta maqsudhi warridoka mathlubi, 'athini maha bataka wa ma'rifatuka...[]

ZIKIR RAJAB

Memasuki Rajab, Ustadz M. Sirajudin Ruyani, pemimpin Mushalla Sohibul Manfaat dan Wakil Talqin wilayah Tangerang, Banten, mengirimkan pesan pendek melalui ponsel.

Isinya, berupa ajakan berzikir ba’da shalat maghrib, “Subhanallahil hayyul qoyyum” sebanyak seratus kali pada 1-10 Rajab.
Setelah itu membaca doa, “Allahumma baariklana fi rojaba wasyakbaana waballigna romadhon” sebanyak tiga kali.

Sepekan kemudian, beliau mengirimkan "pesan spesial" lain untuk 11-20 Rajab, untuk berzikir, "Subhanallahi ahadish shomad" sebanyak seratus kali. Setelah itu membaca doa, “Allahumma baariklana fi rojaba wasyakbaana waballigna romadhon” sebanyak tiga kali.

Dua pekan berikutnya, beliau mengamanahkan zikir Rajab untuk 21-30 Rajab, "Subhanallahi rouf" juga sebanyak seratus kali. Setelah itu membaca doa, “Allahumma baariklana fi rojaba wasyakbaana waballigna romadhon” sebanyak tiga kali.[]

PUASA RAJAB

Memasuki Rajab 1429 Hijriah ini, saya mendapat email berharga dari seorang sahabat. Inti pesannya adalah kemuliaan Rajab dan ajakan untuk bershaum. Subhanallah. Berikut ini, petikan pesan-pesan itu.

Diriwayatkan, Rasulullah SAW telah bersabda, "Ketahuilah bahwa bulan Rajab itu adalah Bulan Allah, maka barang siapa berpuasa satu hari di bulan itu dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari Allah SWT; barang siapa berpuasa pada tanggal 27 Rajab akan mendapat pahala seperti lima tahun berpuasa; barang siapa berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi Allah SW; barang siapa berpuasa tiga hari, yaitu pada tanggal 1, 2, dan 3 Rajab, maka Allah akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia dan siksa akhirat; barang siapa berpuasa lima hari di bulan itu, Insya Allah permintaannya akan dikabulkan; barang siapa berpuasa tujuh hari di bulan Rajab, maka ditutupkan tujuh pintu neraka jahanam; barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab, maka akan dibukakan delapan pintu surga; barang siapa berpuasa lima belas hari di bulan Rajab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan mengganti semua kejahatannya dengan kebaikan; dan barang siapa menambah hari-hari puasanya di bulan Rajab, maka Allah akan menambahkan pahalanya." Rasullah SAW juga bersabda, "Pada malam mi'raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu, dan lebih harum dari minyak wangi. Lalu aku bertanya pada Jibril AS, ‘Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini?’

Jibril AS menjawab, ‘Ya Muhammad, sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajabi.’ “

Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita, "Ketika kami berjalan bersama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih. Kemudian beliau berdoa kepada Allah SWT.

Lalu saya bertanya kepada beliau, ‘Ya Rasulullah mengapakah engkau menangis?’

Beliau SAW menjawab, ‘Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa kepada Allah. Lalu, meringankan siksa atas mereka. Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur.’ Tsauban bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?’

Beliau SAW menjawab, ‘Wahai Tsauban, demi Allah, Dzat yang telah mengutusku sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan shalat malam sekali di bulan Rajab dengan niat karena Allah, kecuali Allah mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan shalat malam satu tahun. Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi, dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.’”[]

KHALWAT SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Usai shalat isya, berzikir, dan tidur. Beliau terbiasa membangun shalat tahajud di tengah malam. Tahajud adalah kebangkitan setelah kematian. Ketika seseorang bangun untuk tahajud, ia akan memiliki hati dan pikiran yang jernih. Agar kekhusuan tidak rusak, jangan terlibat dalam berbagai kegiatan yang lazim seperti makan dan minum.

Setelah bangun tidur, dengan kesadaran akan kebangkitan, beliau membaca:

Alhamdulillahil ladzi ahyanaa ba’da maa amaa tana wa ilayhin nusyur.

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kematian kami dan kepadaNya kami akan dibangkitkan.

Kemudian membaca sepuluh ayat terakhir surat Al Imran:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

(Yaitu) Orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini sia-sia. Mahasuci Engkau, selamatkanlah kami dari api neraka”.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, sungguh telah Engkau hinakan dia dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyerukan kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kami pun beriman.

Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang terbebaskan.

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasulMu dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalanKu, yang berperang dan yang dibunuh, pasti akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisiNya pahala yang baik.”

Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak di dalam negeri.

Ini hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam; dan Jahanam adalah tempat yang seburuk-buruknya.

Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.

Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang ditunrunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitunganNya.

Hai orang yang beriman, bersabarlah, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.

(Al Imran [3]: 190-200)

Setelah berwudhu dan beliau berdoa:

Mahasuci Allah – segala puji bagiMu. Hanya kepadaMu kami berdoa. Aku memohon ampunanMu atas dosa-dosaku. Ampunilah dosa-dosaku, ampunilah seluruh diriku. Terimalah tobatku. Engkau Mahapenyanyang, Engkau Mahamengampuni. Ya Allah, masukkanlah aku ke golongan orang yang menginsafi kesalahan mereka dan masukkanlah aku ke golongan hambaMu yang suci, yang bersabar, yang bersyukur, yang mengingatMu dan yang memujiMu siang dan malam.

Seraya menengadahkan tangannya dan menghadap kiblat, beliau pun melanjutkan doanya:

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Esa, tak bersekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Aku berlindung kepada kasih sayang-Mu dari azabMu. Aku berlindung kepada keridaan dan cintaMu dari murkaMu. Aku berlindung kepadaMu dariMu. Aku tidak mengenalMu seperti Engkau mengenal diriMu sendiri. Aku tidak dapat memujiMu sepenuhnya. Aku adalah hambaMu dan anak hamba-Mu. Dahiku, yang padanya Engkau tuliskan nasibku, berada di tanganMu. TakdirMu berlaku atas diriku. Apa pun yang Engkau tetapkan atas diriku pantas untukku. Kubentangkan kedua tanganku di hadapanMu dan karunia yang Engkau berikan kepada keduanya. Aku bersimpuh di hadapanMu, seraya kuungkapkan semua dosaku. Tak ada tuhan selain Engkau; Engkau mahapengasih dan aku adalah orang yang zalim. Aku adalah pelaku maksiat. aku telah menganiaya diriku sendiri. Karena aku adalah hambaMu, ampunilah dosa-dosaku yang besar. Engkau adalah Tuhanku dan hanya Engkau yang dapat memberi ampunan.

Allah Mahabesar. Segala puji bagiNya. Aku mengingat dan menyucikanNya siang dan malam.

Lalu membaca tiga kalimat tasbih masing-masing sepuluh kali:

Subhanallah.

Mahasuci Allah.

Alhamdulillah.

Segala puji dan syukur bagiMu.

La ilaaha illallah.

Tiada tuhan selain Allah.

Kemudian beliau mendirikan 12 rakaat shalat tahajud, dengan mengucapkan salam setiap dua rakaat. Di ujung malam, beliau menyambungnya dengan shalat witir tiga rakaat. Pada rakaat ketiga, setelah membaca surat Al Fatihah dan surat Al Qur’an (biasanya merangkai surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas), membaca “Allahu Akbar” dan membacakan doa qunut:

Ya Allah, kami memohona pertolonganMu, dan kami memohon ampunan serta petunjukMu. Kami beriman kepadaMu, kami berpaling kepadaMu, kami berserah diri kepadaMu dan kami memujiMu atas semua kebaikan. Kami bersyukur kepadaMu dan kami tidak ingkar kepadaMu. Kami mencela dan menjauhkan diri dari orang-orang yang berbuat maksiat kepadaMu.

Ya Allah, kepada Mu kami mengabdi, kepadaMu kami berdoa dan sujud; kepadaMu kami memohon pertolongan. Kami memohon kasih sayang-Mu dan takut akan azabMu. Sesungguhnya azabMu akan menimpa orang-orang yang tidak beriman kepadaMu.


Menjemput Indahnya Fajar

Setelah matahati terbit di ufuk fajar, beliau mendirikan dua rakaat shalat isyraq (shalat terbitnya cahaya).

Lalu, disambung dengan dua rakaat shalat isti’adzah (shalat memohon perlindungan dan keselamatan dari kejahatan). Pada rakaat pertama, membaca surat Al Fatihah dan Al Falaq. Dan pada rakaat kedua, membaca surat Al Fatihah dan An Nas.

Kehadiran pagi itu pun dijemput oleh dua rakaat shalat istikharah (shalat memohon petunjuk Allah untuk mencapai keputusan yang benar pada hari itu). Pada rakaat pertama, membaca surat Al Fatihah dan Ayat Kursi. Pada rakaat kedua membaca surat Al FAtihah dan Al Ikhlas sepuluh kali.


Mengawali Pagi nan Damai

Mendirikan enam rakaat shalat dhuha, dengan mengucapkan salam setiap dua rakaat. Pada rakaat pertama membaca surat Al Fatihah dan Asy Syams. Dan pada rakaat kedua membaca surat Al Fatihah dan Adh Dhuha.

Usai mendirikan shalat dhuha, dilanjutkan dengan mendirikan dua rakaat shalat kaffarah (shalat menghapuskan dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja). Pada setiap rakaat membaca surat Al Fatihah dan Al Kautsar sebanyak tujuh kali.

Dengan hati yang tenang dan khusu, berikutnya mendirikan empat rakaat shalat tasbih, dengan mengucapkan salam setiap dua rakaat. Di antara berdiri (15 kali), ruku (10 kali), i’tidal (10 kali), sujud (10 kali), dan duduk (10 kali), tentu saja dengan mengalunkan kalimat tasbih;

Subhanallah.

Wal hamdulillah.

Wala Ilaha illallah.

Allahu akbar.

Wala hawla walla quwwata illa billahil aliyyil azhim.

Untuk empat rakaat itu, 300 kali kalimat tasbih dihantarkan untuk Yang Mahamemberi.

Rangkaian khalwat pagi itu, segera saja disambung dengan mengalunkan seratus kali salawat untuk Baginda Muhammad SAW dan membaca seratus kali surat Al Ikhlas.

Semoga Allah memperkenankan istiqomah kita untuk senantiasa berkhalwat karenaNya.[]

30 Juli 2008

SYEKH ACHMAD KHATIB SAMBASI IBN ABD GHAFFAR

Syekh Ahmad Khatib Sambasi dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat. Beliau memutuskan untuk pergi menetap di Makkah pada permulaan abad ke-19, sampai beliau wafat pada tahun 1875. Diantara guru beliau adalah Syekh Daud ibn Abdullah al-Fatani, seorang syekh terkenal yang berdomisili di Makkah, Syekh Muhammad Arshad al-Banjari dan Syekh Abd al-Samad al-Palimbani.

Menurut Naquib al-Attas, Khatib Sambas adalah Syekh Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah. Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu guru dari Syekh Nawawi al-Bantani, yang mahir dalam berbagai disiplin ilmu Islam.

Zamakhsari Dhafir menyatakan bahwa peranan penting Syekh Sambas adalah melahirkan Syekh-Syekh Jawa ternama dan menyebarkan ajaran Islam di Indonesia dan Malaysia pada pertengahan abad ke-19. Kunci kesuksesan Syekh Sambas ini adalah bahwa beliau bekerja sebagai fath al-Arifin, dengan mempraktekkan ajaran sufi di Malaysia yaitu dengan bay'a, zikir, muraqabah, silsilah, yang dikemas dalam Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syekh Sambasi melalui ajaran-ajarannya setelah beliau kembali dari Makkah. Dikatakan, Syekh Sambasi merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, di antaranya Syekh Abd al-Karim Banteni. Abd al-Karim terkenal sebagai Sulthan al-Syekh, beliau menentang keras imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syekh Sambasi.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, mereka menyatakan sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut Sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syekh Sambasi adalah sebagai seorang ulama, dimana tuduhan penulis Eopa tersebut tidak tepat ditujukan kepada beliau. Syekh Sambasi dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan Syekh-Syekh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syekh Tolhah Kalisapu bin Tallabudi dari Cirebon, dan Syekh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad dari Madura, dimana mereka berdua pernah menetap di Makkah.

Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan pada akhir abad ke-19 Thariqat ini menjadi sangat terkenal. Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah tersebar luas melalui Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalaam.

Pada tahun 1970, ada 4 tempat penting sebagai pusat Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah di pulau Jawa yaitu: Rejoso (Jombang) di bawah bimbingan Syekh Romli Tamim, Mranggen (Semarang) di bawah bimbingan Syekh Muslih, Suryalaya (Tasikmalaya) di bawah bimbingan Syekh Ahmad Sahih al-Wafa Tajul Arifin (Mbah Anom), dan Pagentongan (Bogor) di bawah bimbingan Syekh Thohir Falak. Rejoso mewakili garis aliran Ahmad Hasbullah, Suryalaya mewakili garis aliran Syekh Tolhah dan yang lainnya mewakili garis aliran Syekh Abd al-Karim Banten dan penggantinya.

Pada prakteknya, ajaran Thariqat disampaikan melalui ceramah umum di masjid atau majelis ta'lim di rumah salah satu anggota Thariqat. Sehingga tidak mengagetkan jika selama masa ceramah umum, tidak ada materi yang terekam dengan cermat. Bagaimanapun juga, di bawah bimbingan Mbah Anom, mempunyai kontribusi yang besar, dimana ajaran thariqat dibukukan dalam sebuah kitab berjudul Miftah ash-Shudur. Tujuan dari kitab ini adalah untuk mengajarkan teori dan praktek Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah sebagai usaha mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Hasil usahanya yang lain terkemas dalam kitab Uqud al-Juman, al-Akhlaq al-Karimah, dan buku Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja.[]

INFO TERKAIT:
Silsilah
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Syekh Bahaudi Nasqsabandi
Syekh Abul Qasim Al-Junayd AL-Baghdady
Syekh Tholhah Kalisapu Cirebon
Syekh Abdul Karim Bantani
Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad
KHA Sohibulwafa Tajul Arifin

THORIQOH QODIRIYAH NAQSYABANDIYAH (3)

Maulana Syekh Muhammad Nazim Adil telah menjelaskan bahwa setelah terorisme, permasalahan terbesar umat manusia kedua adalah penyalahgunaan narkotika oleh generasi muda (The Muslim Magezine, Spring 1999). Permasalahan sosial ini bukan hanya dialami oleh bangsa Barat, tetapi juga menimpa kalangan generasi muda seluruh dunia. Walaupun jumlah korban narkoba di negara-negara Asia tidak sebesar di Barat, tetapi permasalahan ini menarik perhatian yang sangat serius bagi Mbah Anom untuk mendirikan Pondok Inabah, pusat rehabilitasi korban narkoba dengan dzikir sebagai obatnya.

Metodologi Mbah Anom didasarkan pada hasil pengalaman spiritual beliau sebagai seorang sufi dan kepercayaannya bahwa dzikrullah mengandung pencahayaan/penerangan, karakter khusus dan rahasia yang dapat mengobati muslim yang mempercayainya. Hal ini didasarkan pada firman Allah: "Ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingatmu". Jasa dan keuntungan dari dzikir di Pondok Pesantren Suryalaya dapat dirasakan sebagian masyarakat yang telah pergi berobat ke sana.

Penelitian terhadap metodologi Mbah Anom pernah dilakukan Dr. Emo Kastomo pada tahun 1989. Dia melakukan evaluasi secara random terhadap 5.929 orang pasien di 10 Pondok Inabah. Dan hasilnya, 5.426 orang sembuh, 212 orang dalam proses menuju sembuh, dan 7 orang pasien meninggal dunia.

Ada tiga keikutsertaan pengikut Thoriqah Qadiriyah Naqshabandiyah dalam usaha mancapai Indonesia merdeka, yaitu: Pertama, keikutsertaan para Syekh dan haji di Banten pada revolusi Juli 1888. Dilaporkan, Syekh Abd al-Karim Banten tidak tertarik dengan akivitas politik, namun penggantinya Haji Marzuki lebih berpikiran reformis dan sangat antiBelanda. Walaupun Thoriqah tidak memimpin dalam revolusi, tetapi Belanda khawatir dengan pengaruhnya, dan sebagian besar diantara mereka meyakini, secara umum pengikut sufi khususnya Thoriqah Qadiriyah Naqshabandiyah merupakan organisasi yang mempunyai tujuan untuk mengalahkan kekuatan kolonial.

Kedua, perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thoriqah Qadiriyah Naqshabandiyah Syekh Guru Bangkol. Belanda mempertimbangkan, Thoriqah merupakan faktor terpenting timbulnya pemberontakan-pemberontakan. Walaupun penasehat Pemerintah Belanda Snouck Hurgrounje memberikan masukan bahwa terlalu berlebihan untuk menilai Thariqat sebagai usaha politik untuk melawan Belanda, pendapatnya tersebut tidak dindahkan sampai muncul Syarikat Islam, sebuah organisasi politik yang berdiri pada tahun 1911.

Ketiga, sekarang di Jawa ada tiga cabang terbesar Thoriqah Qadiriyah Naqshabandiyah, yaitu Rejoso, Mranggen, dan Suryalaya, masing-masing memberikan dukungan terhadap partai-partai politik, di mana beberapa di antara mereka terlibat aktif dalam partai politik.

Pada tahun 1957, Jam'iyyah Ahl Thariqah Mu'tabarah didirikan Nahdlatul Ulama, yang pada saat itu juga berbentuk partai. Tujuannya adalah untuk menyatukan semua kekuatan Thariqat dan memelihara silsilah yang dimulai dari Nabi Muhammad Saw. Jam'iyyah ini memelihara dan mengajarkan ajaran tasawuf dari 45 kekuatan Thoriqah yang pernah ada pada tahun 1975. Syekh Mustain Romly dari Rejoso diangkat sebagai pimpinan Jam'iyyah ini. Pada tahun 1979, ketika Syekh Mustain Romli merubah afiliasi politiknya dari Partai Persatuan Pembangunan ke Golkar, para Ulama mendirikan Jam'iyyah Ahl al-Thariqah al-Nahdliyyah.

Pimpinan Jam'iyyah ini adalah Syekh Haji DR. Idham Kholid, dimana pada saat itu pernah menyambut kedatangan Syekh Muhammad Hisham Kabbani dari Naqsabandi Amerika Serikat pada bulan Desember 1977. Syekh Hisham Kabbani juga datang kemabali ke Indonesia ke acara the International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang diselenggarkan Nahdlatul Ulama Februari 2004.[]


INFO TERKAIT:
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (1)
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (2)
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (4)
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (5)

THORIQOH QODIRIYAH NAQSYABANDIYAH (2)

Dua pengikut aliran sufi terbesar di dunia, yaitu Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah, kedua-duanya terdapat di Indonesia. Tidak diketahui secara pasti bagaimana paham Qadiriyyah datang ke Indonesia. Tetapi Naguib al-Attas memberitahukan bahwa penyair Hamzah Fansuri (Sumatera Utara) adalah pengikut Thariqat Qadiriyyah.

Telah diketahui, bahwa rujukan pengikut Qadiriyyah adalah Syekh Abd al-Qâdir al-Jaylânî, sebagaimana ditemukan dalam puisi Fansuri, yang berdomisili di Aceh pada pertengahan abad 16. Sebagai tambahan, dalam prosa Fansuri tertulis Syekh Sufi terkenal seperti Abû Yazid al-Bustamî, Junayd al-Baghdâdi, Manshûr al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Jami Attar, dan beberapa Syekh lainnya.

Diungkapkan bahwa orang pertama yang memperkenalkan Qadiriyyah adalah Syekh Yusuf Makassar (1626-1699). Guru Qadiriyyahnya, Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad al-Hamid, seorang imigran dari Gujarat bersama pamannya Nur al-Dîn al-Raniri. Di Yaman, Syekh Yusuf belajar ajaran Naqshabandiyyah dari Syekh terkenal dari Arab, Muhammad Abd al-Baqi. Sufi lainnya dari Aceh, Abd al-Rauf al-Sinkili, yang belajar di Madinah pada pertengahan abad 17 di bawah bimbingan Syekh Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Qurani, dimana mereka merupakan Guru Paham Qadariyyah.

Lombard menginformasikan kepada kita, asal muasal Thariqat Naqsabandiyyah di Indonesia, ditunjukkan dengan pernyataan L.W.C van den Berg; ketika dia datang aktivitas Thariqat Naqsabandiyyah telah ada di Aceh dan Bogor, di mana dia menyaksikan dzikir Naqsabandiyyah sebagai aktivitas utama. Kemudian dia menggambarkan kedatangan Thariqat Naqsabandiyyah di wilayah Medan, tepatnya di Langkat.

Penulis berikutnya menggambarkan bahwa Syekh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqshabandi memperkenalkan Naqsabandiyyah ke Riau. Setelah menghabiskan waktu selama 2 tahun di Malaysia dalam rangka berdagang, beliau pergi ke Makkah dan belajar di bawah bimbingan Syekh Sulaiman al-Zuhdi. Pada tahun 1845, beliau mendapatkan sertifikat dan kembali ke Riau kemudian mendirikan perkampungan Thariqat Naqsabandiyyah dengan nama Bab al-Salâm. Pada abad ke-19, Thariqat Naqshabandiyyah mempunyai cabang di Makkah, menurut Trimingham, salah satu Syekh Naqshabandiyyah dari Minangkabau (Sumatera Barat) juga aktif pada tahun 1845. Dari Makkah, Thariqat Naqshabandiyyah tersebar luas ke berbagai negara termasuk ke Indonesia, melalui jamaah haji setiap tahun. Kedua Thariqat tersebut muncul pada abad ke-7 dan 8 Hijriyyah (abad ke-12/13 Masehi).

Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan karena Syekh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut kedua Thariqat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Survey tentang sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia. Selanjutnya, Syekh Sambas tidak mengajarkan kedua Thariqat ini secara terpisah, tetapi dalam satu kemasan (penggabungan kedua Thariqat).[]

INFO TERKAIT:
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (1)
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (3)
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (4)
Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (5)